Inspirasiku12 Oktober 20263 menit baca

Merdeka Belajar Ala Gus Dur

Kisah Gus Dur mengingatkan saya bahwa belajar tidak terbatas pada sekolah atau ruang kelas. Melalui kebiasaan membaca, berdialog, dan memahami kehidupan, kita bisa terus memperluas wawasan sekaligus belajar menjadikan pengetahuan lebih bermanfaat bagi sesama.

0 views· 0 tanggapan
Merdeka Belajar Ala Gus Dur

Belajar Tidak Harus Selalu di Ruang Kelas: Inspirasi dari Gus Dur

Selama ini, kita sering menghubungkan belajar dengan sekolah, ruang kelas, buku pelajaran, tugas, dan ujian. Padahal, jika dipikirkan kembali, banyak pelajaran berharga justru kita dapatkan dari pengalaman sehari-hari, percakapan dengan orang lain, atau sesuatu yang kita baca karena rasa ingin tahu.

Pandangan tersebut kembali mengingatkan saya pada sosok KH. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur. Melalui tulisan Merdeka Belajar Ala Gus Dur karya Mochammad Najmul Afad, saya menemukan sudut pandang menarik tentang bagaimana seseorang dapat terus belajar tanpa harus membatasi dirinya pada pendidikan formal.

Bagi saya, kisah Gus Dur bukan hanya menarik karena perjalanan hidup dan pemikirannya, tetapi juga karena semangat belajarnya yang terasa relevan dengan dunia pendidikan hingga saat ini.

Belajar karena Rasa Ingin Tahu

Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari kisah Gus Dur adalah kegemarannya membaca. Ia dikenal memiliki ketertarikan yang luas terhadap berbagai bidang pengetahuan, mulai dari agama, sejarah, budaya, hingga persoalan sosial dan politik.

Kebiasaan membaca tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus selalu didorong oleh tuntutan tugas, nilai, atau ijazah. Belajar juga bisa tumbuh dari rasa ingin tahu dan keinginan untuk memahami dunia dengan lebih baik.

Hal ini membuat saya kembali memikirkan cara kita memandang pendidikan.

Tidak jarang, kegiatan belajar masih terlalu berfokus pada bagaimana menyelesaikan tugas atau memperoleh nilai yang baik. Tentu saja, nilai tetap memiliki fungsi dalam pendidikan. Namun, saya merasa akan sangat disayangkan jika semangat belajar hanya berhenti pada pencapaian angka.

Saya percaya bahwa salah satu hal penting yang perlu ditumbuhkan dalam diri murid adalah rasa ingin tahu. Ketika seseorang memiliki keinginan untuk memahami sesuatu, proses belajar dapat terus berlangsung bahkan tanpa harus selalu diarahkan.

Setiap Orang Bisa Menjadi Sumber Belajar

Hal lain yang saya pelajari dari perjalanan Gus Dur adalah keterbukaannya terhadap berbagai pemikiran dan latar belakang masyarakat.

Ia tidak membatasi pengetahuan hanya dari lingkungan atau kelompok tertentu. Melalui pertemuan, bacaan, dan dialog dengan berbagai kalangan, Gus Dur memperluas pemahamannya tentang manusia dan kehidupan.

Dari sini, saya memahami bahwa belajar juga membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan.

Terkadang, kita terlalu sibuk menyampaikan pendapat hingga lupa bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman atau cara pandang yang belum pernah kita pertimbangkan.

Sebagai calon guru, hal ini menjadi pengingat bagi saya bahwa pengetahuan tidak selalu bergerak satu arah dari guru kepada murid.

Guru memang memiliki tanggung jawab untuk membimbing pembelajaran. Namun, bukan berarti guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di kelas.

Murid juga membawa pengalaman, pertanyaan, gagasan, dan sudut pandang yang dapat memperkaya proses belajar. Karena itu, saya ingin membangun suasana pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pemikirannya.

Merdeka Belajar Bukan Berarti Belajar Tanpa Arah

Ketika mendengar istilah merdeka belajar, sebagian orang mungkin membayangkan kebebasan untuk mempelajari apa saja sesuai keinginan.

Namun, menurut saya, kebebasan dalam belajar tetap membutuhkan tanggung jawab.

Merdeka belajar bukan berarti guru tidak perlu membimbing atau murid dibiarkan menghadapi kesulitannya sendiri. Justru, guru memiliki peran penting dalam membantu murid menemukan cara belajar, mengembangkan kemampuan berpikir, serta mengambil keputusan secara mandiri.

Saya mulai semakin memahami hal tersebut ketika menjalani praktik mengajar.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, murid sering berhadapan dengan permasalahan yang membutuhkan proses berpikir dan percobaan. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan menghafal langkah-langkah yang diberikan guru.

Murid perlu belajar memahami masalah, mencoba berbagai kemungkinan, menemukan kesalahan, dan memperbaiki penyelesaiannya.

Di sinilah saya melihat pentingnya memberikan ruang kepada murid untuk berpikir sendiri, tanpa menghilangkan pendampingan yang mereka butuhkan.

Bagi saya, salah satu tujuan pembelajaran adalah membantu murid menjadi semakin mampu belajar secara mandiri.

Teknologi Membuka Kesempatan Belajar yang Lebih Luas

Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang Informatika, saya juga melihat hubungan antara semangat belajar Gus Dur dengan perkembangan teknologi saat ini.

Jika dahulu seseorang perlu berusaha mencari buku atau menemui orang tertentu untuk memperoleh pengetahuan, sekarang berbagai sumber belajar dapat diakses melalui perangkat digital.

Kita dapat mempelajari pemrograman, membaca artikel ilmiah, mengikuti kursus, atau berdiskusi dengan orang dari berbagai tempat tanpa harus berada di ruang kelas yang sama.

Bahkan, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memudahkan kita untuk mengeksplorasi suatu topik.

Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti seseorang benar-benar memahami apa yang dipelajarinya.

Informasi yang tersedia tetap perlu diperiksa, dibandingkan, dan dipahami secara kritis. Teknologi seharusnya membantu kita mengembangkan pengetahuan, bukan membuat kita terbiasa menerima jawaban tanpa memikirkannya kembali.

Karena itu, saya ingin memandang teknologi sebagai sarana untuk memperluas kesempatan belajar, bukan sebagai pengganti rasa ingin tahu dan proses berpikir manusia.

Ilmu yang Bermakna adalah Ilmu yang Bermanfaat

Dari berbagai hal yang dapat dipelajari melalui kehidupan Gus Dur, ada satu nilai yang menurut saya sangat penting, yaitu kebermanfaatan ilmu bagi orang lain.

Pengetahuan tidak hanya menjadi sesuatu yang dimiliki untuk diri sendiri, tetapi juga dapat digunakan untuk memahami persoalan masyarakat dan membantu mencari jalan keluarnya.

Pemikiran ini cukup dekat dengan alasan saya tertarik pada pendidikan dan teknologi.

Saya menyukai bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, mengolah data, dan menciptakan berbagai solusi. Namun, saya juga semakin memahami bahwa kemampuan teknis saja belum cukup.

Kita perlu mempertimbangkan untuk siapa teknologi dikembangkan, permasalahan apa yang ingin diselesaikan, dan manfaat apa yang benar-benar dapat dirasakan.

Begitu pula dalam pendidikan.

Menurut saya, keberhasilan belajar tidak seharusnya hanya dilihat dari kemampuan murid menjawab soal atau memperoleh nilai tinggi. Lebih jauh, pembelajaran juga perlu membantu mereka mengembangkan kepedulian, kemampuan berpikir, dan kesadaran untuk menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.

Sebuah Pengingat untuk Terus Belajar

Membaca tentang perjalanan dan pemikiran Gus Dur membuat saya kembali merenungkan satu hal sederhana: proses belajar seharusnya tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan formal.

Menjadi lulusan perguruan tinggi bukan berarti telah mengetahui segalanya. Begitu pula ketika kelak menjadi guru, saya tidak ingin menganggap bahwa tugas saya hanya mengajarkan pengetahuan yang sudah dimiliki.

Dunia terus berubah. Teknologi berkembang, tantangan pendidikan semakin beragam, dan setiap murid membawa kebutuhan yang berbeda.

Karena itu, saya ingin terus membiasakan diri membaca, berdiskusi, mencoba hal baru, dan terbuka terhadap pandangan yang berbeda.

Saya juga ingin menjadi pendidik yang tidak hanya mengajak murid untuk belajar, tetapi menunjukkan melalui tindakan bahwa belajar merupakan bagian dari kehidupan.

Dari kisah Gus Dur, saya mendapatkan pengingat bahwa luasnya pengetahuan perlu berjalan bersama keterbukaan pikiran, kepedulian, dan kemauan untuk terus memahami orang lain.

Pada akhirnya, belajar bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan tersebut mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Dan bagi saya, itulah salah satu makna belajar yang ingin terus saya pegang.


Bacaan yang Menginspirasi

Mochammad Najmul Afad. (2022, 23 Agustus). Merdeka Belajar Ala Gus Dur. UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Artikel ini merupakan refleksi pribadi yang terinspirasi dari bacaan tersebut, khususnya mengenai semangat belajar sepanjang hayat, keterbukaan terhadap berbagai pandangan, dan pentingnya kebermanfaatan ilmu.

#Praktik Baik#Literasi#Motivasi

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.